Minggu, 15 Desember 2013

Siem Reap : Pesona Keindahan Angkor

Siem Reap : Pesona Keindahan Angkor


Sudah sejak lama sebenarnya gw ingin melihat keindahan negeri satu ini, apalagi dengan salah satu daya tarik wisatanya yang sempat di publikasikan menjadi satu film Angelina Jolie dalam Tomb Rider. Dan akhirnya tahun ini terwujud.

Jam 5.30 kami sudah check in di gate keberangkatan kami, karena pesawat kami take off jam 6.50, dan sampai di Siam Reap jam 8.00 pagi, perjalanan pagi membuat saya exciting karena dapat melihat pemandangan dengan jelas.

Dan penerbangan tepat waktu kami tepat pukul 8.00 pagi kami sudah tiba di Siam Reap. Bandaranya kecil dengan hanya beberapa penerbangan saja mungkin. Sebenarnya kami saat itu masih ingin bernarsis-narsis ria di depan pesawat, apalagi kami sempat melihat pesawat buatan IPTN di airport ini sayang kami keburu di usir oleh petugas yang berjaga di airport ini.


Narsis di depan pesawat yang sudah membawa gw sampai di Kamboja.


Tiga serangkai pencari kitab suci.

Setelah itu kami masuk ke dalam bandara untuk proses imigrasi, petugas imigrasinya cukup ramah tidak ada pertanyaan darinya, dia hanya mengecap pasport saya dengan visa untuk masuk ke Kamboja. Kami semua sempat berganti baju mengingat semalaman kami tidak ganti baju.
a


Counter Imigrasi di Bandara Siam Reap
Setelah selesai cuci muka dan ganti baju, kami keluar dari bandara untuk mencari Mr. Savuth yang menjemput kami. Karena kami sudah membooking via internet untuk mengantar kami keliling Angkor dengan biaya USD 20 jadi masing-masing kena biaya USD 5.

Perjalanan dari bandara ke Angkor kurang lebih 30 menit, melewati beberapa perkampungan di Kamboja ini membawa gw ke memori Indonesia sekitar 20 tahun zaman gw kecil karena maasih asri dan hijau dimana-mana dengan penduduk yang memiliki muka mirip-mirip dengan wajah pribumi Indonesia, membuat gw merasa hommy di sini.


Danau yang ada di sekitar Angkor
Objek wisata yang kami tuju pertama kali adalah Angkor Wat karena untuk masuk ke areal kompleks candi ini gw harus membeli tiket, tiket disini ada beberapa macam, yang pertama adalah tiket terusan satu hari dengan harga USD 20 untuk tiga hari USD 30 dan seminggu yakni USD 60, karena kami memang memiliki waktu yang terbatas maka kami hanya mengambil tiket yang satu hari. Kenapa sampai ada tiket terusan satu minggu karena luas seluruh kompleks candi ini adalah seluas 400 km2 jadi kebayang gak mungkin kalau kita kelilingi dalam waktu satu hari,




Loket Tiket Angkor

Sebenarnya kompleks Angkor ini tidak lebih menarik di banding kompleks Borobudur di negara kita tapi yang gw salut manajemen pengelolaan di sini benar-benar profesional, jadi ketika membeli tiket maka kita langsung di foto dengan menggunakan web cam dan tiketnya di cetak langsung dengan foto kita keren kan...


One Day Pass Angkor Wat


Danau di gerbang Angkor


 Angkor Wat

Saat kami tiba cuacanya panas sekali tetapi tidak menyurutkan tekad kami untuk masuk ke dalam areal kompleks Angkor ini.

Menjejakkan kaki di Angkor membuat gw kagum, mengapa tidak? bayangkan di dalam hutan terletak penemuan peradaban zaman dulu yang cukup besar, dengan bangunan yang syarat akan sejarah mengundang banyak arkeolog atau bahkan wisatawan yang ingin mengetahui peradaban zaman dulu yang keren ini sampai konon ada seorang turis yang jatuh cinta akan kecantikan Angkor ketika meninggal abu kremasinya di tebar di kawasan Angkor ini.

Kawasan ini baru ditemukan sekitar tahun 1990 dan kini situs Angkor ini ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO
Salah satu gerbang masuk Angkor waktu itu.

Candi Angkor ini memang merupakan candi ini terlihat dari beberapa ukiran yang ada di dala candi Angkor ini, juga di dalamnya kita masih dapat menemukan Budha Rupang atau patung Budha yang ada di dalam candi.


Budha Rupang di dalam Angkor


Satu hal yang menakjubkan adalah setiap ukiran di dalam candi ini benar-benar sangat detail, selain ukuran yang sudah membuat saya berdecak kagum dan berpikir bagaimana caranya peradaban suku Khmer itu dpat membangun sebuah bangunan yang menakjubkan ini dengan keterbatasan yang mereka miliki zaman itu dari segi teknologi.


Ukiran yang detail di Angkor

Selesai melihat bagaimana majunya peradaban di zama Khmer yang terpahat di Angkor Wat gw berniat melanjutkan perjalanan ke salah satu candi yang masih terletak di dalam kawasan Angkor yang cukup terkenal yakni Bayon Temple, tetapi berhubung suidah jamnya makan siang maka kami meminta Mr. Savuth untuk mengantar kami ke tempat makan yang dekat dan tentunya murah, maka Mr. Savuth mengantar kami ke sebuah warung tradisional di sekitaran Angkor.


Rumah Makan Tradisional di dekat Angkor

Menu makanan di sini cukup beragam dan yang paling gw suka adalah harganya sudah tercantum di daftar menu jadi mengurangi resiko untuk di tipu dikit, gw pesen pork minched sour harganya USD 8,5 ya lumayan mahal sih tapi memang untuk makanan berat harganya sekitaran segini. Untuk minum gw pesan Es Teh Manis yang harganya USD 1,5 tetapi teh manis di sini pake gula batu.


Penampakan menu gw.

Sedangkan Christie pesan menu yang cukup unik yakni pesan Pork Soup tetapi yang unik penyajiannya di dalam batok kelapa yang utuh untuk menu Christie seharga USD 6,5. Untuk rasa sih gw bilang cukup masuk ke lidah gw karena rasanya mirip dengan menu di Indonesia.

Setelah perut terisi dan istirahat sebentar kami langsung menuju ke Bayon Temple, untuk menuju ke Bayon Temple hanya lima menit dari tempat kami makan dengan menggunakan tuk-tuk.


Gerbang menuju Bayon Temple

Candi ini mendapat julukan temple of faces, mengapa candi ini dinamakan candi seribu wajah, setelah masuk kedalamnya gw mengerti kenapa di namakan demikian karena hampir di semua candi yang ada di dalamnya terdapat relief wajah jadi gak aneh dinamakan demikian. Padahal gak sampai seribu wajah yang ada di candi ini sekitar 200 an relief wajah aja ( gak ada kerjaan ya gw ngitungin, hehehe). 
 

Gw berasa diliatin sama 200 wajah raksasa di dalam ini (mungkin gaka akan gw pernah temui di candi manapun selain di Bayon ini)

Candi Bayon ini di bangun pada abad 12 pada mulanya candi ini bercorakkan candiu Budha yakni pada zaman Raja Jayavarman VII tetapi seiring bergantinyaraja menjadi Raja Jayavarman VII maka candi Bayon ini berubah corak menjadi candi Hindu, tetapi setelah Raja Jayavarman VII selseai memimpin maka candi ini kembali ke corak sebelumnya yakni Candi Budha sampai saat ini yang dapat kita liat.


Wajah-wajah dalam relief di Candi ini mirip dengan wajah Avalokitesvara Bodhisatva salah satu Budha dalam aliran Budha Mahayana, tetapi ada juga yang mengatakan wajah dalam relief itu mirip dengan relief wajah Jayavarman VII. 


Reliefnya masih begitu jelas.

Relief yang dikatakan mirip dengan wajah Avalokitesvara Bodhisatva

Selesai dari Bayon kami langsung menuju candi terakhir yang menjadi rangkaian objek wisata kami yakni yang terkenal sebagai lokasi syutingnya Angelina Jolie yakni Ta Phromh atau dikenal dengan nama Tomb Raider Temple.Begitu menjejakkan kaki di gerbang candi ini kita akan di sambut oleh alunan musik dari suku Khmer yang menjadi korban perang, alunan musik dan lantunan syair yang cukup menyayat hati walaupun sebenarnya gw gak mengerti pasti arti dari syair lagu itu.

Tanda Warisan Budaya UNESCO untuk Ta Phrom

Entah mengapa kesan mistis yang pertama kali gw tangkap ketika memasuki kawasan candi ini, tidak seperti  dua candi sebelumnya, entah mengapa tiba-tiba bulu kuduk gw sempat berdiri, mungkin karena memang candi ini letaknya cukup masuk ke dalam hutan yang cukup lebat.

Gerbang masuk Ta Phrom
Tetapi biarpun buluk kuduk berdiri gak menyurutkan gw masuk ke dalam candi ini karena kecantikannya yang sempat terdengar ke seluruh penjuru dunia dengan laku kerasnya film tomb raider. Candi ini di bangun oleh Raja Jayavarman VII konon untuk menghormati ibunya. Relief di dalam candi ini di dominasi oleh Pradnyaparamitha yakni dewi kebijaksanaan. 
                                
Satu lagi yang menambah suasana mistis di dalam candi ini adalah akar pohon yang besar-besar menandakan usia pohon ini yang mungkin sudah ratusan tahun atau bahkan ribuan tahun karena besar dan begitu kokohnya akar-akar pohon ini.
Pohon Lokasi Shotingnya Angelina Jolie


Keren ya akarnya

Puas mengeksplorasi keindahan Angkor maka kami melanjutkan perjalanan kami menuju ke Pnomph Phen karena esok harinya rencana kami akan menuju Tuol Sleng. Maka gw  diantar oleh Mr. Savuth menuju ke Shelter Travel kami di Seila Angkor Khmer Express yang akan membawa kami ke Pnomph Phen. Untuk tiketnya seharga USD 12.


Shelter Seila Angkor Khmer Express di Siem Reap.

Setelah menunggu kurang lebih setengah jam di shelter maka berangkatlah mini van yang gw tumpangi tepat pukul 17.00 perjalanan memakan waktu kurang lebih 3 jam maka tibalah kami di Pnomph Phen, namun ternyata mini van ini hanya mengantar pada stoping pointnya travel tersebut.

Untuk mencapai hostel kami maka kami harus menggunakan tuk-tuk lagi dengan tawar-tawaran maka di sepakatilah harga USD 6 untuk berempat, maka kami diantarkan menuju Vibol Happy House yang terletak di 11Eo Street 5 (Angkor), Riverfront, Phnom Penh.


 
 Si Pemilik Vibol Happy House 

Untuk satu malamnya di kenakan tarif USD 5, tetapi sebetulnya tarif ini bisa lebih murah bila gw ambil on the spot karena hanya USD 3 tetapi buat gw yang new commer untuk overseas backpacker gak berani ambil resiko, takut gak dapat penginapan. 


Vibol Happy House 
1Eo Street 5(Angkor), Riverfront, Phnom Penh.
 Telp : +855236372779
Fasilitas : Fan,Wi-fi

Beberapa alternatif penginapan lain di Phnom Penh :

Natural Inn Backpacker Hostels
No.52, Street 172, Sangkat Chey Chumneah, Khan Daun Penh, Phnom Penh, Cambodia, Riverfront, Phnom Penh, Cambodia
Rates : USD 12

Sok San Guest House
113K h/m 8+9en phume kbal domrey, n/b kakab, khan, pou Sen chey, In front of Phnom Penh, Khan Sensok, Phnom Penh, Cambodia
Rates : USD 7

Untuk booking hostel bisa booking lewat agoda.com atau hostelworld.com.

Setelah proses check in selesai gw langsung mandi dan beres-beres dan mandi. Setelah itu gw sempat nongkrong di sungai mekong yang isinya adalah pub semua Phnom Penh benar-benar surganya penggemar dugem sama seperti Popies Lane di Bali.


 Salah satu Pub terbesar di Phnom Penh

Disini minuman keras benar-benar bebas di temukan dimana saja, bahkan di salah satu minimart gw sempat liat banyak banget stock mirasnya bahkan harganya benar-benar murah.


Beberapa Miras yang di jual bebas di Kiwi Mini Mart

Harga rata-rata cuma berkisar USD 9 - USD 24 jadi buat lu orang yang suka miras gw rasa di sinilah surganya, heheheheh. Tapi gw gak sempat nyoba tetapi gw sempat beli bir khas Angkor harganya USD 2.2 atau sekitar Rp. 22.000. Jadi kalau lu ke Angkor tetapi gak mencoba minum bir Angkor kayanya belum afdol cuy. (hehehehhe tapi jangan sampe ketahuan bang haji takut dimarahin).


Angkor Beer

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 2.00 dinihari dan esoknya gw mau ke Tuol Sleng dan city tour maka gw putuskan untuk kembali ke hostel.

Selamat malam Angkor.......

Pengeluaran gw hari ini :
Tuk-Tuk Jemput dari Bandara dan keliling Angkor : USD 20/4 orang = USD 5
Tiket Angkor Wat : USD 20
Beli Air Mineral di Angkor Wat : USD 2
Makan dan Minum di Angkor : USD 10
Travel dari Siem Reap ke Phnom Penh : USD 12USD
Tuk-Tuk menuju ke hostel : USD 6/4 orang = USD 1,5
Penginapan di Vibol Guest House : USD 5
Angkor Beer : USD 2,2  
Beli Air Mineral di Phnom Penh : USD 1,5

Total : USD 59,2 atau sekitar : Rp. 544.600


Minggu, 08 Desember 2013

Satu Malam Di Kuala Lumpur

Suatu Malam di Kuala Lumpur

Setelah menunggu hampir setahun dari pemesanan tiket gw saat free seat AA diluncurkan tahun lalu dan gw sempat dapat yakni basic farenya Rp. 0 tetapi dengan yang lain-lain totally jadi Rp. 168.000 menurut gw harga itu worthed banget ke Malaysia harga tiket pesawatnya sama dengan kereta Bandung Cirebon.

Tanggal 31 juli 2013 jam flight gw jam 18.25, hari itu gw masih sempat kerja setengah hari membereskan laporan sebelum gw cuti maklum masih status karyawan,heheheh. Selanjutnya gw nukarin uang, kebetulan di dekat kostan gw ada money changer yang dekat, gw tukarin uang untuk keperluan selama disana kurang lebih Rp. 4.000.000 dengan berbagai macam mata uang yakni US dollar,Thailand Bath, Ringgit Malaysia, dan untuk kip dan juga real gw pikir nanti saja saat di laos dan kamboja karena gw pakai tidak terlalu banyak mata uang tersebut.


Modal uang gw untuk perjalanan selama 10 hari

Setelah dari money changer gw langsung cabut menuju ke daerah Batu Nunggal karena shelter bus Primajasa yang dari Bandung-Sukarno Hatta ada di sana sebelumnya gw sudah booking jadi tinggal berangkat, harga tiketnya adalah Rp. 75.000, kenapa gw memutuskan naek bus ini tentunya harganya yang ekonomis dan relatif dekat dari kantor gw shelternya (maklum backpacker tentunya cari alternatif transportasi yang murah, hehehehe).




Bus Prima Jasa Jurusan Bandung - Sukarno Hatta


Gw pesan bus yang jam 14.30 dan bus berangkat on time, bedanya bus yang ini tidak menaikkan dan menurunkan penumpang di jalan, jadi menghemat waktu. dan akhirnya gw tiba di terminal 3 yakni terminal keberangkatan AA untuk ke luar negeri. Ketika gw sampai di terminal tiga gw langsung ketemu dengan Otto dan teman gw yang dari Madiun, tetapi kawan kita yang satu lagi ini Christie belum sampai. Gw langsung masuk ke trempat pengecekan baran. Dan counter Airport Tax, bandara Indonesia adalah salah satu dari dua negara  yang masih memberlakukan airport tax, dan untuk keluar negeri gw harus membayar Rp. 150.000. (lumayan sebetulnya buat hostel atau makan selama di luar,heheheh).

Setelah pengecekan dari pihak maskapai, maka selanjutnya gw melewati counter pengecekan dari pihak imigrasi, akhirnya di caplah dengan tanda gw akan keluar dari negri tercinta yakni Indonesia Raya (sok nasionalis banget ya gw, hehehe)







Counter Pengecekan Barang

Berhubung hari saat kita pergi adalah masih bulan Ramadahan dimana sebagian besar umat Muslim menjalankan ibadah puasa, maka pihak manajemen bandara yakni PT. Angkasa Pura (Persero) memberikan takjil (makanan pembatal puasa) ya lumayan buat ganjel perut, heheheh


Takjil dari PT. Angkasa Pura

Setelah itu gw masuk ke dalam ruang tunggu sambil duduk-duduk dan mengecharge gadget karena lumayan low battery.


Narsis di Terminal 3 Sukarno Hatta
Setelelah kurang lebih menunggu 45 menit maka pesawat gw pun tiba dan gw naik ke pesawat, tapi sebelum itu tetap gw narsis2 di depan pesawat.



Di dalam pesawat gak banyak yang dapat dilakukan, tetapi memang dasar LCC ya jadi di dalam pesawat pun ada yang dagang, gw jadi ke ingat suasana kereta ekonomi sewaktu gw trip ke Jogja dan Bali hehehhe, gw sempat beli NU Green Tea yang ternyata harganya 4 x lipat  yakni seharga Rp. 18.000 di banding di darat tapi gapapalah sekali-kali ngerasain minum di pesawat, hehehhe

  


Nu Green Tea yang gw sempat beli di pesawat.

Sebetulnya selain minuman mereka juga menyediakan makanan dan juga souvenir tapi mending gw tahan perut gw yang lapar sapai KL karena gw dah punya rencana untuk mencoba street food nya KL.

Setelah penerbangan 2 jam maka sampailah gw di LCCT kuala Lumpur, dan untuk pertama kalinya gw menginjakkan kaki di negri orang lain dan kali pertama gw menginjakkan kaki di negri yang acapkali berseteru dengan Indonesia ini, tetapi mereka tetap menyambut ramah kami. Setelah sampai gw langsung menuju counter imigrasi untuk mengecap pasport gw sebagai tanda izin masuk ke Malaysia.



Cap pertama di pasport gw.

"Welcome to KL" itu suara yang pertama kali keluar dari mulut gw setelah keluar dar pintu kedatangan di LCCT, bandara ini cukup besar tetapi tidak lebih baik dari terminal bus, karena banyak sekali orang yang tidur di bandara sambil menunggu waktu pesawat berangkat.

Setelah sampai di LCCT kami langsung menuju ke KL Sentral, yakni pusatnya kota Kuala Lumpur untuk sampai kesana kami harus naik bus, dan bus yang cukup recomended adalah Aero Bus, dengan tarif sekali jalan RM. 10, tetapi juga tersedia tiket PP yang lebih murah yakni hanya RM 14 maka kami putuskan untuk ambil tiket PP.




Tiket PP Aero Bus


Aero Bus

Lama perjalanan dari LCCT menuju KL Sentral memakan waktu satu jam, tidak banyak yang dapat dilihat karena kami melewati tol yang relatif gelap. dan sepanjang perjalanan hanya pohon yang dapat terlihat. Jadi kami putuskan untuk memejamkan mata sebentar.

Setelah melewati perjalanan satu jam tibalah kami di KL Sentral, dan tujuan kami yang pertama adalah mengisi perut yang sudah mulai lapar, maka kami putuskan untuk mencari tempat makan, tidak banyak yang dapat kami temukan karena saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 waktu setempat.

Kami memutuskan untuk masuk ke resto pinggir jalan yang menjadi recomended dari Hairun yakni Nasi Kandar yang ada di KL Sentral tepat diseberang shelter Aero Bus.


Resto Nasi Kandar M.S.N

Nasi Kandar merupakan salah satu resto yang menyediakan makanan halal, karena kami juga harus memikirkan kawan kami yang gak bisa makan yang gak halal.

Setelah melihat daftar menu gw memutuskan untuk memesan kwetiaw goreng ayam, satui hal yang gw suka dari tempat makan ini, menu dan harganya di pajang besar-besar, sehingga tidak ada kemungkinan mereka melakukan jebakan batman dengan harga yang mahal.

  

Daftar Menu Nasi Kandar 

Setelah menunggu kurang lebih 10 menit maka datanglah pesanan gw, porsinya cukup besar dan gw mulai mencicipinya, untuk rasa gak begitu beda dengan kwetiau goreng di Indonesia, cuma untuk kwetiau pinggir jalan di Indonesia kan juga menggunakan daging ayam, tetapi kalau di Indonesia suwirannya kecil-kecil dan di KL ini lebih tepatnya bukan suwiran ayam tetapi potongan ayam karena besar-besar.

Untuk harganya cukup murah yakni hanya RM 6 atau sekitar  Rp. 21.000 gak berbeda jauh dengan di Indonesia.

Kwetiauw  Goreng Ayam

Untuk minum gw pesan Es Teh Tarik dengan harga RM 1,7 atau setara dengan Rp. 6.500, setelah perut terisi maka kami melanjutkan jalan-jalan menikmati suasana malam di KL Sentral, dan ditengah jalan gw menemukan bendera Malaysia, yang cukup besar dan gw memutuskan photo di depannya.





Karena mengingat waktu berjalan terus dan bus terakhir adalah pukul 2 AM maka kami langsung menuju ke shelther bus lagi untuk kembali ke LCCT dan bermalam di sana.

Sampai di LCCT kami melihat ada salah satu franchise fast food yang gak ada di Indonesia yang konon kata teman-teman gw enak, maka gw penasaran mencicipi makan ayam itu, kalau di Indonesia ya mirip-mirip dengan KFC, yakni Marry Brown.




Paket nasi dengan 2 ayam seharga RM 14 di bagi 2 dengan Christie cukup menjadi pengganjal perut gw sambil menunggu pagi. Malam itu gw habiskan dengan ngobrol dengan ke tiga teman gw dan bermalam di LCCT, nice night.

Pengeluaran hari ke I:
Bus Prima Jasa Bandung - Sukarno Hatta : Rp. 75.000
Kopi di Bandara : Rp. 5.000
Nu Green Tea di Pesawat : Rp. 18.000
Bus KLCC-KL Sentral-KLCC  : RM 14/Rp. 50.000
Makan dan Minum di KL Sentral : RM 7,7/ Rp. 27.500
Makan di Marry Brown : RM 14/2 =RM 7/ Rp. 24.500

Total Pengeluaran hari ke- 1 : Rp. 200.000

 

Sabtu, 07 Desember 2013

Bagaimana Packing yang baik?

Bagaimana Packing yang baik?

Sebenarnya hal ini adalah hal yang simple, tetapi beberapa orang yang mungkin sudah pernah nge bolang seperti gw, seringkali membawa barang-barang yang tak terpakai sama sekali, atau bahkan ransel kita mengalami kelebihan beban (apalagi bagi backpacker kaya gw yang gak mau beli bagasi dan mengandalkan bagasi kabin saja tentunya hal ini sangat-sangat penting), karena apabila gw kelebihan barang bawaan maka gw harus membayar bagasi yang mungkin harganya bisa tiga sampai empat kali lipat (sayang baget kan, mending tuh uang buat gw survive selama nge bolang).

Untuk itu gw mau berbagi beberapa tips yang mungkin berguna bagi pembaca setia blog gw:
* Pilih backpack yang kedap air atau ada rain covernya ( mengingat  mungkin saja selama kita melakukan perjalanan cuaca saat itu hujan) jadi apabila kedap air atau memiliki rain cover maka kita tidak perlu repot lagi.
* Pilih backpack yang memiliki resleting dan tali yang kuat, tentunya kita tidak mau di repotkan dengan putusnya ransel kita. (ini pengalaman gw ketika backpack gw harus putus resletingnya saat dalam perjalanan).
* Jangan membawa backpack yang terlalu besar, untuk perjalanan menggunakan penerbangan ekonomi promo tentunya backpack 55-60 liter cukup.
* Hindari mengepak barang satu malam sebelum berangkat, karena akan memudahkan kita untuk mengingat-ngingat barang apa yang terttinggal sehingga tidak repot saat nanti kita sudah berangkat.
* Taruh barang yang berat dan besar di bagian bawah.
* Isilah backpack dengan 75 % volume saja, karena space yang tersedia nanti untuk pakaian kotor dan juga oleh-oleh.
* Barang-barang berharga dan dompet serta pasport hendaklah di pisahkan dalam tas.

Saat gw melakukan perjalanan selama dua belas hari, barang-barang apa saja yang gw bawa, antara lain :
3 buah T- Shirt Ransel Hitam
3 buah kaus
3 buah celana pendek
2 buah celana panjang dengan yang di pakai
Handuk kecil
Perlengkapan mandi, sabun, shampo,sisir, gel rambut, silet cukur
2 pasang kaus kaki
Tali sepatu ( ini digunakan untuk menjemur pakaian di hostel )
MP3 player, kanera dsigital, charger kamera, handphone, charger handphone
Sepasang sandal
Buku dan peta panduan perjalanan


Backpack yang memuat keperluan gw selama 10 hari trip

Cara mengepak yang simple dan tidak makan tempat, saya melakukannya dengan menggulung pakaian seperti di bawah ini dan mengikatnya dengan karet gelang, hal ini berguna juga agar pakaian tidak lecek selama dalam perjalanan.

Contoh Packing

Dan berat bawaan gw gak lebih dari 7 Kg sesuai dengan targetnya Low Cost Airlines (FYI sebenarnya sih selama gw jalan beberapa kali flight gak pernah di suruh nimbang tuh tas, asal sesuai dengan ketentuan satu tas dan satu hand bag)

Gua juga sarankan untuk membawa tas kecil sabagai tempat menyimpan uang dan pasport.

Okay sekian tips  dari gw semoga bermanfaat buat pembaca setia blog gw.